bersama hujan



di sudut senyap yang pasti kau ketahui,
kuabadikan binar mata dan
senyummu yang menyapa,
pecah hening oleh merdu suaramu
pada matamu kubaca keinginan untuk bicara
di waktu kita yang hanya sesaat hujan
masa kita kuyup
di sepanjang perjalanan pulang
tiap hasta yang meninggalkan kenangan

31 januari 2010
(kotabumi-bandarjaya-tegineneng-natar-rajabasa) bersama hujan
baca selengkapnya...

awan dan hujan



hanya seperti awanawan
yang ditiadakan hujan
semua rasa hanya akan rebah
menjadi lukisan di tanah merah

maka berikanlah sedikit waktu
pada kupukupu yang terlambat pulang
untuk berteduh sejenak
di bawah naungan senja yang merekah

22.00, 6 Januari - 5:44, 9 Januari 2010
(resah, lelah, dan kebingungan yang dibungkus, lalu dikadokan)
baca selengkapnya...

kaalpanik pyaar, zindagee jaise chaand

apa hidup melulu tentang kuntumkuntum rindu
entah pada rembulan
entah pada terataiteratai putih
pun pada kematian
dan semua yang menjemukan

bilakah semua tanya
kita jawab bersamasama
dengan simfoni
atau dengan katakata kita yang remuk
dan luluh jadi satu

sungguh benarkah kau rasa sama
tiap memandang rembulan itu
ktika hirup semua wangi pagi ini

tidak lelahkah kita sandiwara
mengapa kita tidak berhenti
sebentar saja
untuk berbagi
mengurai nyeri
menikam sunyi
sebelum
mati
baca selengkapnya...

memelukmu



angin menghembuskan rindu
yang dititipkan dari jauh
saat daun serta kelopak bunga
berjatuhan susulmenyusul
dan kupukupu belum berkepak

aku merekareka senyum dan tatapmu
mencoba memeluk rasa
yang kau simpan jauh
tak kudapati
hanya sepenggal desah
di ujung air mata
dan butirbutir keheningan
menanti hujan yang siap jatuh
baca selengkapnya...

Kepadamu



aku
termenung bersama kata yang berserak
menanti kurangkai menjadi puisi
atau prosa yang genap kau mengerti

aku
bergeming memandangmu menjauh
menggenggam sekuntum bunga
yang mestinya waktu itu jadi cinta

aku
tak ingat lagi sebanyak apa
malam-malam berjatuhan
aku hanya ingat
aku
terbata mengeja sajak ini
berharap kau sudi
berharap kau mengerti

(orang dalam foto : Aal civil05, mohon izin dan trimakasih bro, boleh ya..)
baca selengkapnya...

Selamat Jalan


(foto dari : http://kuraja.blogspot.com)

pagi ini ku diminta membaca puisi
atas nama kemanusiaan katanya
kesedihan, kepedihan, kehilangan
mungkin begitu tepatnya

sebenarnya aku tak pandai berujar tentang kepiluan
atau pedihnya rasa kehilangan
hanya kemarin lalu aku mendengar cerita
tentang sesal yang tak terbayar
tentang cinta dan rindu yang belum sempat terujar

ada seorang mak yang mati memeluk sepatu baru nomor 34
besok pagi anaknya ulang tahun
ada seorang abang yang memangku adiknya
sambil menangis menjadijadi
ditengah isak ia berujar, “mengapa pagi tadi kita mesti berkelahi?”

ada sepasang mata yang kebingungan
siapa saja yang ditemui selalu ditanya, “Uni kemana? dari tadi dia tidak ada.”

ada yang duduk diam sambil memeluk dua kaki
ia tidak menangis, hanya menyadari
kecup mak di kening ini pagi tadi adalah kali terakhir…

ya… aku hanya mendengar cerita
jelas tak genap kurasakan perihnya
hanya cerita
dari kota yang dirubuhkan
dari tempat orang yang saling cinta dikubur bersama
tempat rindu dan sesal melayanglayang
nyerupa arwah yang gentayangan

tuhan, maafkanlah…
pagi ini izinkan
sambil memeluk luka
kami kembalikan
seikat rindu dan sesal
serta takluk cinta kami padaMu
bersama sepasang sepatu baru nomor 34
bersama setumpuk surat permohonan maaf
bersama tanya yang menanti jawab
dan kecupan terakhir yang tak sampai
tuhan terimalah
sungguh tak ada tempat sembunyi
selain di hatiMu

maafkan kami hanya belajar cinta kasih dengan bencana
maafkan kami hanya mengingatMu pada sisa air mata

Sebuah kolaborasi imajiner Angga Adhitya dan temanteman penyair
dibacakan pada Konser Amal untuk Sumatera Barat, diringi Farewell oleh Ken Bonfield

(untuk temanteman yang pulang lebih dulu)

baca selengkapnya...

aku dan awan mengeja namamu



sebuah puisi untuk adek


pada titiktitik hujan tereja namamu
bersama rintik kudengar katakatamu
syahdu nada yang berbisik
bersama hening yang jatuh ritmis

di pinggir sunyinya langit
ku terduduk mendekap galau
menatap kesempatanku yang luruh seperti awanawan
menurut ujarmu
ia telah pudar dari hatimu
bertahuntahun lalu
terganti hati yang lebih berani
memberimu pelangi
sedang aku masih belum berhenti
menulis sajak putih abuabu
di bawah awanawan yang luruh
baca selengkapnya...

senyummu di rembulan



Tak ada lagi secangkir kopi tiap kali kupulang kantor. Hanya setumpuk piring kotor dan beberapa potong pakaian yang harus kucuci semua malam itu juga. Tak ada tangan yang diam-diam merayapi kakiku membuka sepatu. Tak ada wajah yang siap terkesima mendengar semua ceritaku. Hanya potret aku dan kau, dalam figura yang berdebu. Tergantung di sisi kanan ruang tamu, di bawah sinar lampu yang redup. Kalau sudah benar-benar teringat kau biasanya aku hanya menatap rembulan di balik jendela. Mengingat-ingat bagaimana kau tersenyum. Senyum yang aku harus mulai berhenti mengharapkannya.
baca selengkapnya...

Tidak Berkekuatan: Catatan untuk puisi-puisi yang masih belum puisi.



Ada sebelas buah puisi yang diterima panitia. Dari jumlah yang sedikit itu tidak ada puisi yang benar-benar mengesankan buat saya. Ada memang beberapa larik dalam puisi-puisi tersebut yang cukup menarik. Namun, jika dinilai utuh sebagai sebuah puisi, rasanya masih jauh dari kata apik. Saya tidak menemukan jurus-jurus memukau yang umumnya ada pada sebuah puisi. Saya juga tidak menemukan cerita dan rasa yang benar-benar kuat. Kesedihan yang menyayat, sindiran yang pahit benar, kelucuan yang menggelitik sekaligus getir, atau sesuatu yang lain. Sesuatu yang sanggup meninggalkan kesan yang membekas, sesuatu yang berkekuatan.

Ada beberapa buah puisi yang saya pikir memiliki ide yang cemerlang. Dua di antaranya puisi itu berjudul Titik dan Kertas. Kedua puisi tersebut nampak sebagai kesan, persepsi, serta makna bagi diri penulis tentang dua hal yang menjadi temanya. Hanya saja ide ini tidak dikuti dengan sebuah transformasi yang berhasil. Beberapa yang lain malah lebih akut. Kita semua tentu meyakini bahwa ide cemerlang saja tidak dapat serta merta melahirkan puisi yang bagus.

Puisi pertama tentang titik. Sebuah titik, bulat, kecil. Terkadang dianggap tak berarti. Namun suatu ketika ia dapat dengan sangat berkuasa mengakhiri sesuatu. Penulis mencoba menuliskan puisi tentang titik. Puisi kedua tentang kertas. Teman yang padanya bercerita tentang yang dilihat, didengar, dirasa. Menumpahkan segala rasa. Sebenarnya ide ini cukup menarik, unik, dan sama sekali tidak basi. Namun puisi itu kemudian seolah menjadi kalah pamor dibanding puisi lain dengan tema yang sama sekali basi, cinta. Simak saja puisi Just For Mira berikut.

sore ini telah kucatat kegilaan!
pada dada hening kutaburkan aneka kembang
riuh alirkan roma tanpa muara
dan aku bernang-renang kehilangan mimpi
kau di sisiku
kau dipembuluh kangenku

kamarku memang hanya sepetak cinta
dan kau terperangkap di atas tilam
kau lupa menyembunyikan tawamu
kau lupa bahwa aku adalah musafir
yang selalu merindu kesejukan tawa
sorang gadis

pesonamu berkilauan
menikam pupil mataku
hingga aku terkapar dalam kemiskinan insyaf
dan kemelaratan tatap. o,
alangkah hebatnya gerai rambutmu!
jantungku pecah dan tergugu
belepotan ilusi. kau masih menyisakan jemarimu
untuk mengusap ketakutan yang menggigil
dipunggung benakku
oh, mira! kau tak lupa mencetak napasmu
di atas karpet lusuhku. berhelai-helai rambutmu
kau celupkan dalam cangkir kopiku. dan aku
meneguknya
aku mabuk. kau mainkan cello di mulut pintu
sebelum kau bawa serta ketermanguanku, sambil
menyanyikan lagu senja yang termabuk-mabuk

Sebenarnya puisi di atas juga tidak benar-benar bagus. Juga bukan ditulis oleh penyair terkenal. Agak kurang fair rasanya jika saya langsung membandingkan puisi teman-teman magang dengan puisi-puisi penyair terkenal. Tapi mengapa tetap saja ia terasa lebih atau lebih berasa? Apa karena tema cinta selalu menggetarkan semua orang. Tentu bukan semata itu. Puisi Just For Mira terasa lebih puisi. Pilihan kata serta pemadatan bahasa menjadikannya lebih berkekuatan gaib. Ide yang biasa tadi disampaikan dengan gaya bahasa dan atraksi gila yang khas. Nampak penulis puisi Just For Mira lebih berhasil mentransformasikan rasa dan perasaannya menjadi puisi tersebut.

Ada beberapa puisi yang sudah terlihat baik pada awalnya. Namun, nampak kehilangan konsistensi atau seperti kehabisan ide di paruh terakhir. Akhirnya puisi itu ditutup dengan bait yang mengecewakan.

Beberapa puisi yang lain justeru lebih akut. Terlalu klise. Tidak ada pemadatan bahasa. Pilihan kata yang terlalu biasa. Persajakannya tidak melahirkan bunyian-bunyian yang harmonis, apalagi gaib. Penggambaran yang kurang konkret. Pengimajian di mana? Lalu apa yang istimewa dari puisi-puisi itu? Nampaknya kita perlu mencoba memahami kembali hakikat puisi sebagai sebuah karya seni. Bagaimana ia bisa berkomunikasi dan bisa begitu menggugah. Bagaimana ia bisa begitu berkekuatan?
baca selengkapnya...

Menulis & Visi Hidup: Aku ingin hidup seribu tahun lagi..



Sebuah Kisah Tentang Visi

Anggaplah kita sampai pada suatu hari, ketika jasad ini sudah tak lagi bernyawa. Kita dimakamkan sendiri dalam kubur. Sudah tak lagi rupawan, tak pandai pula bercakap-cakap dan membuat orang lain terpesona. Semua keluarga, tetangga, teman dekat, rekan bisnis, teman sekantor, teman satu organisasi, semua berkumpul di pemakaman kita. Setelah kita selesai dimakamkan, beberapa di antara orang-orang yang hadir memberikan sambutan. Menyampaikan semua kesan yang mereka dapatkan, yang mereka rasakan selama bergaul sangat dekat dengan kita. Apa pun yang mereka katakan, bisa jadi benar, bisa jadi keliru. Akan tetapi, pada saat itu kita tidak bisa menyangkalnya. Itulah gambaran tentang diri kita. Paling tidak cukup mewakili kesan yang didapat oleh orang-orang yang hadir pada saat itu. Tanpa bisa kita sangkal atau merasa keberatan.

Jika yang memberi sambutan adalah ayah kita, apa yang kita harap beliau katakan? Jika yang memberi sambutan adalah paman kita, apa yang kita harap beliau katakan? Jika yang memberi sambutan adalah tetangga kita, apa yang kita harap beliau katakan? Jika yang memberi sambutan adalah adik kita, apa yang kita harap ia katakan? Jika yang memberi sambutan adalah teman kuliah kita, apa yang kita harap ia katakan? Sekali lagi, apa yang kita harap mereka katakan? Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pikirkanlah, niscaya kita akan mengerti bagaimana kita menjalani kehidupan ini bersama mereka dan orang lain. Niscaya kita akan mengerti dengan apa kehidupan ini mesti kita isi.


Anda menulis, Maka Anda Hidup
Apa yang diperbuat seseorang dalam hidup sangat menentukan cara ia dikenang oleh orang lain setelah ia mati.

Mungkin kita ingat Jose Rizal, sebuah nama yang ada dalam buku pelajaran sejarah kita. Jose Rizal adalah seorang pejuang kemerdekaan Filipina. Noli Me Tangere adalah novelnya yang sangat fenomenal. Sastrawan dan pejuang yang mengusai 22 bahasa dunia ini, secara terang-terangan mengecam ketidakadilan penjajahan Spanyol, dan menceritakan kebobrokan kalangan pribumi yang korup dan menjual negara kepada penjajah. Jose Rizal lewat karya-karyanya sangat berhasil membakar semangat perlawanan rakyat Filipina terhadap penjajah kala itu.

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA) penulis tafsir Al-Azhar, pelopor Gerakan Islah di Minangkabau, wartawan, editor, penerbit, politikus, guru besar, rektor, ulama. Sebuah nama yang selalu dikenang bukan hanya di negaranya sendiri. Negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah pun selalu mengingat beliau. Tiga novelnya yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli, menjadi buku teks sastra wajib di Malaysia dan Singapura. Beliau mendapat penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, tahun 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia, tahun 1974, gelar Datuk Indono dan Pangeran Wiroguno dari Pemerintah Indonesia.

Masih banyak nama-nama lain yang dikenang oleh umat manusia. Kebanyakan dari mereka menjadikan tulisan sebagai prasasti hidupnya. Menjadi sebuah cara bagaimana mereka dikenang. Tulisan mereka lah yang membuat mereka tetap hadir secara nyata dalam kehidupan kita sekarang ini. Tulisan mereka lah yang menginspirasi ribuan bahkan jutaan orang yang hidup setelahnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa aktivitas menulis dapat membuat seseorang hidup lebih lama dari usianya. Seseorang dapat memberikan kebermanfaatan kepada orang lain sepanjang tulisannya masih dibaca dan bermanfaat bagi orang lain.

Kalau kita mau merenungi lebih dalam lagi, kita akan mulai bertanya banyak hal. Mengapa Al-Quran bisa menyebar dengan sangat efektif ke penjuru-penjuru dunia? Salah satunya karena ia ditulis (didokumentasikan dalam bentuk tulisan). Mengapa pula Marxisme, Teori Darwin, dan paham-paham lain dapat begitu mempengaruhi dunia? Salah satunya karena semua itu ditulis.

Maka yakinlah sebuah tulisan begitu dapat mempengaruhi dan memberikan kebermanfaatan bagi orang lain dan tentunya pada diri penulis itu sendiri. Tidak sedikit orang yang hidupnya berubah setelah membaca sebuah buku yang begitu menginspirasi. Boleh jadi seseorang sangat sulit untuk menerima nasehat dari sebuah cermah, tetapi ia seorang yang pandai memetik hikmah dari sebuah kisah. Menulislah maka anda akan hidup. Bahkan lebih lama dan lebih bermanfaat daripada mereka yang tidak menulis. Mulai saat ini, tentukan lah bagaimana cara anda ingin dikenang dan terus lah menulis dengan semangat ‘Aku ingin hidup seribu tahun lagi’.
baca selengkapnya...

let's go to the new world


Beberapa waktu yang lalu (sebenarnya sudah lama banget) seorang teman meminta saya untuk melihat postingnya pada blog pribadinya. attien.blogspot.com. Sebenarnya saya sedang sibuk menyelesaikan buku panduan materi Lingkar Pena Writing Class. Tetapi, alhamdulillah saya sempat juga ke warnet. Selesai mengunduh halaman yang dimaksud saya berpikir sesuatu yang lain. Kepalang tanggung sudah ke warnet, masa’ cuma mengunduh satu halaman. Akhirnya saya putuskan untuk mengunduh semua posting di attien.blogspot.com dengan WebCopier (perangkat lunak). Saya bermaksud membuat tinjauan terhadap blog tersebut. Saya belum pernah melakukan hal serupa ini sebelumnya. Apa salahnya? Selalu ada kali pertama untuk semua hal. Berikut sedikit hal yang bisa saya tulis.

Berbagai warna-warni pengalaman dari seorang pribadi yang menjalani kehidupan secara tidak biasa, tentu sangat jauh dari kata menjemukan ketika dibaca. Mulai dari kebijaksanaan, politik, akhlak, dan rona lainnya dapat kita jumpai dalam blog ini. Dalam konteks blog sebagai catatan harian attien.blogspot.com dengan tulisan-tulisannya sangat ekspresif. Kisah-kisah keseharian, pemikiran, perasaan, rindu, cinta, dan berbagai rona kehidupan tertoreh dengan bahasa yang ‘sebenarnya’ apik. Ada puluhan kalimat dan paragraf yang kuat dan sangat menginspirasi dalam tulisan-tulisan yang dipublikasikan (kebanyakan menurut saya tergolong esai). Kalimat dan paragraf itu hadir dalam konsep yang sangat rigid dan solid pula bila ditinjau dari aspek kebahasaan. Puisi-puisi yang dipublish juga bukan ‘kacangan’. Simak saja puisi berikut:
hijau sejuk....
sejak warna diberikan pada manusia
menjadi bermaknalah kisah-kisah
yang berjalan sepanjang masa
yang terkungkung di kelinglungan

ku katakan cinta
hands of attien...
Maka cinta selalu bertemu
Dengan siul-siul berlalu
Berharap merdu
Lantas layu

Aku terkungkung
Dalam kaca-kaca yang lapuk
Hampir pecah
Dilempar batu dari seberang kegilaan

Mimpiku mengawan-awan
Menjulang dan terbang
Dari sisi hariban

Biar ku bilang aku suka
Biar ku bilang ku jatuh cinta
Karena selalu terlihat indah

Melayunya cinta bak permainya hati-hati terpaut
Terpenjara dalam gorong-gorong yang sepi
Melarat jiwa
sungguh kasihannya

hatipun berbuku-buku
dengan sekian kisah catatan waktu

ah, ku tak ingin menyapa lama
biar sudah kurasa indah
biar ku suka bulan,
juga langit malam-Nya


Hanya saja pada esai-esai attien.blogspot.com, saya menemukan adanya sebuah inkonsistensi. Mungkin sedikit aneh, inkonsistensi yang saya maksud justeru saya tangkap karena adanya beberapa hal yang apik dan menginspirasi dalam esai-esai attien.blogspot.com. Pasalnya kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang sangat kuat dan menginspirasi dalam blog ini selalu tidak dibarengi dengan kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang sekelasnya. Selesai membaca kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang sangat kuat dan menginspirasi saya langsung kecewa membaca tulisan lanjutannya. Banyak yang terkesan asal dan tidak jelas cerita atau maunya apa? (Jangan marah bagimu surga). Asal, kalimat dan paragraf dibuat sekenanya. Struktur yang terkadang tidak utuh. Kohesi dan koherensi sama sekali dilupakan. Untuk beberapa tulisan yang mungkin bisa dikategorikan sebagai murni curahan hati (tidak dimaksudkan untuk bahan bacaan publik) mungkin bisa sedikit dimaafkan. Seperti pada umumnya orang menulis catatan harian, tulisan pada kategori itu juga terkesan ‘Semau Aku!’ Tapi tak ada yang berhak salahkan.

Hal lain yang dapat saya tangkap secara jelas dalam tulisan-tulisan di blog ini adalah adanya nada-nada yang hilang (ini yang saya maksud tak jelas maunya apa?). Saat membaca kisah/tulisan dalam blog ini, sangat terasa sekali ada bagian yang hilang padahal mestinya ada agar kisah/tulisan itu genap dimengerti. Saya memiliki semacam hipotesis untuk kasus ini. Jika boleh diibaratkan orang yang bermusik, Attien dalam proses menulisnya bermusik secara tidak utuh. Hanya beberapa nada dari lagunya saja yang secara wujud dapat dengar oleh orang lain. Sisanya ia mainkan dalam kepalanya, orang lain tidak dapat mendengar. Sehingga hanya dirinya seorang lah yang genap mengerti tulisan-tulisan dalam blog ini. Hal ini adalah kasus umum bagi penulis pemula atau orang yang menulis sekedarnya saja (tidak belajar dan berlatih secara serius). Juga pada tulisan-tulisan di blog yang pada umumnya jarang sekali diedit sebelum dipublish. Sekedar perlu untuk diketahui, hal inilah yang menjadi bagian dari polemik webblog juga sastra cyberpunk.

Secara keseluruhan esai-esai dalam blog ini akhirnya terlihat rapuh dari segi kekuatan konsep utuh dan kebahasaan. Jika hendak diputuskan sebagai konsumsi publik mungkin perlu ditinjau ulang. Perlu dirapihkan pada beberapa aspek. Agar pembaca dapat menikmati tulisan-tulisan yang disajikan dengan nyaman. Namun, jika semata sebagai catatan harian, blog ini tidak kurang suatu apapun. Sangat ekspresif, penuh dengan inspirasi. Mutiara-mutiara di dasar lautan. Mungkin blog ini sisi dunia yang lain dari seorang Umi Yuliatin. Sisi yang berbeda. Sisi yang mungkin tak tercermin dalam laku keseharian. Sebuah dunia baru tempat ia bisa bebas lepas mengungkapkan semuanya. Tak salah jika blog ini bertajuk let's go to the new world, my own world.

Menurut Gua…
Udah mbak, capek….
baca selengkapnya...

Ujar-Ujar


Hidup adalah kumpulan dari ketidaksempurnaanketidaksempurnaan. Terkadang sesuatu harus terasa begitu pedih agar hal lain bisa begitu indah.
baca selengkapnya...

pisah



aku memulai langkahku ke sisi lain dunia
berdiri di simpang jalan
masih sempat kutatap matamu yang
ujarkan cinta dan
mulutmu yang diam serta
kakimu yang beku
baca selengkapnya...

di pinggir malam



malam sudah lelah meretas geming
tapi ini belum pagi
aku sudah berpikir
untuk meminta maaf lagi pada tuhan

di pucuk hening kutitip salam
cinta, bisakah kita berdamai saja?
baca selengkapnya...

pada sebuah perhentian



sepinya kebimbangan memaksaku
alihkan tatap dari awan yang
menyanyikn kegalauan
mengenyahkan rasa dari hati
agar ia benarbenar sepi

haruskah kuhenti
lagi
pada muram ketiadaan
baca selengkapnya...

Silahkan Tinggalkan Pesan