
Ada sebelas buah puisi yang diterima panitia. Dari jumlah yang sedikit itu tidak ada puisi yang benar-benar mengesankan buat saya. Ada memang beberapa larik dalam puisi-puisi tersebut yang cukup menarik. Namun, jika dinilai utuh sebagai sebuah puisi, rasanya masih jauh dari kata apik. Saya tidak menemukan jurus-jurus memukau yang umumnya ada pada sebuah puisi. Saya juga tidak menemukan cerita dan rasa yang benar-benar kuat. Kesedihan yang menyayat, sindiran yang pahit benar, kelucuan yang menggelitik sekaligus getir, atau sesuatu yang lain. Sesuatu yang sanggup meninggalkan kesan yang membekas, sesuatu yang berkekuatan.
Ada beberapa buah puisi yang saya pikir memiliki ide yang cemerlang. Dua di antaranya puisi itu berjudul Titik dan Kertas. Kedua puisi tersebut nampak sebagai kesan, persepsi, serta makna bagi diri penulis tentang dua hal yang menjadi temanya. Hanya saja ide ini tidak dikuti dengan sebuah transformasi yang berhasil. Beberapa yang lain malah lebih akut. Kita semua tentu meyakini bahwa ide cemerlang saja tidak dapat serta merta melahirkan puisi yang bagus.
Puisi pertama tentang titik. Sebuah titik, bulat, kecil. Terkadang dianggap tak berarti. Namun suatu ketika ia dapat dengan sangat berkuasa mengakhiri sesuatu. Penulis mencoba menuliskan puisi tentang titik. Puisi kedua tentang kertas. Teman yang padanya bercerita tentang yang dilihat, didengar, dirasa. Menumpahkan segala rasa. Sebenarnya ide ini cukup menarik, unik, dan sama sekali tidak basi. Namun puisi itu kemudian seolah menjadi kalah pamor dibanding puisi lain dengan tema yang sama sekali basi, cinta. Simak saja puisi Just For Mira berikut.
sore ini telah kucatat kegilaan!
pada dada hening kutaburkan aneka kembang
riuh alirkan roma tanpa muara
dan aku bernang-renang kehilangan mimpi
kau di sisiku
kau dipembuluh kangenku
kamarku memang hanya sepetak cinta
dan kau terperangkap di atas tilam
kau lupa menyembunyikan tawamu
kau lupa bahwa aku adalah musafir
yang selalu merindu kesejukan tawa
sorang gadis
pesonamu berkilauan
menikam pupil mataku
hingga aku terkapar dalam kemiskinan insyaf
dan kemelaratan tatap. o,
alangkah hebatnya gerai rambutmu!
jantungku pecah dan tergugu
belepotan ilusi. kau masih menyisakan jemarimu
untuk mengusap ketakutan yang menggigil
dipunggung benakku
oh, mira! kau tak lupa mencetak napasmu
di atas karpet lusuhku. berhelai-helai rambutmu
kau celupkan dalam cangkir kopiku. dan aku
meneguknya
aku mabuk. kau mainkan cello di mulut pintu
sebelum kau bawa serta ketermanguanku, sambil
menyanyikan lagu senja yang termabuk-mabuk
Sebenarnya puisi di atas juga tidak benar-benar bagus. Juga bukan ditulis oleh penyair terkenal. Agak kurang fair rasanya jika saya langsung membandingkan puisi teman-teman magang dengan puisi-puisi penyair terkenal. Tapi mengapa tetap saja ia terasa lebih atau lebih berasa? Apa karena tema cinta selalu menggetarkan semua orang. Tentu bukan semata itu. Puisi Just For Mira terasa lebih puisi. Pilihan kata serta pemadatan bahasa menjadikannya lebih berkekuatan gaib. Ide yang biasa tadi disampaikan dengan gaya bahasa dan atraksi gila yang khas. Nampak penulis puisi Just For Mira lebih berhasil mentransformasikan rasa dan perasaannya menjadi puisi tersebut.
Ada beberapa puisi yang sudah terlihat baik pada awalnya. Namun, nampak kehilangan konsistensi atau seperti kehabisan ide di paruh terakhir. Akhirnya puisi itu ditutup dengan bait yang mengecewakan.
Beberapa puisi yang lain justeru lebih akut. Terlalu klise. Tidak ada pemadatan bahasa. Pilihan kata yang terlalu biasa. Persajakannya tidak melahirkan bunyian-bunyian yang harmonis, apalagi gaib. Penggambaran yang kurang konkret. Pengimajian di mana? Lalu apa yang istimewa dari puisi-puisi itu? Nampaknya kita perlu mencoba memahami kembali hakikat puisi sebagai sebuah karya seni. Bagaimana ia bisa berkomunikasi dan bisa begitu menggugah. Bagaimana ia bisa begitu berkekuatan?
baca selengkapnya...