Metamorfosa, sebuah jeritan hati dan curahan perasaan sedih, terpuruk, sendiri, hancur, dan goresan luka yg ditorehkan oleh tingkah polah seorang wanita, membentuk pribadi yg makin kuat membuat makin mengerti akan arti CINTA yg sesungguhnya,.Begitulah seorang teman memberi sedakit deskripsi yang mungkin dimaksudkan sebagai pengantar albumnya. Di sini saya tidak akan membicarakan musik ataupun album tersebut, jelas karena saya tidak mengerti banyak tentang musik. Lagi pula saya belum pernah mendengarnya meski sudah sempat minta dikirimi. Namun jika anda tertarik dengan album ini tentu anda dapat menghubungi sang empunya album lewat akun fb-nya (bayar Syad, promosi ini namanya). Bukan juga tentang teman saya yang nampak begitu tampan di foto profil yang mungkin juga cover albumnya itu, bukan. Mungkin, karena pada dasarnya saya hanya seperti kebanyakan orang yang tidak begitu merasa senang jika ada yang lebih tampan daripada dirinya, it's so intimidate. :D just kidding, oh.. no.. it's serious.
Sejujurnya dengan serta merta saya jadi tertarik dengan kata-kata yang saya petik di atas saat membacanya pertama kali. Terlihat jelas sebuah ide dimana belajar sering kali harus wujud dalam bentuk dan cara yang menyakitkan. Bisa jadi setiap orang akan memiliki ungkapannya masing-masing untuk menggambarkan ide tersebut. Mungkin juga kalau kita rajin membaca atau rajin merenung kita akan mendapati beberapa hal yang kurang lebih sama. Misalkan saja ada yang mengatakan "Kita tidak bisa belajar tanpa mengalami kesulitan", "rasa sakit membuat kita tangguh", "dengan mengalami kegagalanlah kita bisa menghargai manisnya kemenangan", dan sebagainya. Mungkin juga setiap kita akan memiliki pengalaman masing-masing tentang proses belajar yang harus wujud dalam bentuk dan cara yang saya sampaikan tadi, menyakitkan.
Coba perhatikan saja bentuk yang paling mudah diamati, belajar bersepeda. Saya yakin tidak sedikit di antara kita yang terluka saat belajar bersepeda, dan saya juga sangat yakin pada akhirnya kita berhasil. Nah, akhirnya kita sudah melewati sesuatu yang disebut belajar. Setelah itu pun, ketika kita sudah cukup pandai berkendara kita tetap bisa saja jatuh. Teringat beberapa hari yang lalu seorang teman jatuh dari sepeda motor barunya, sedikit terluka, dan motornya tergores. Saya katakan padanya, "ga apa, brarti nanti harus lebih ati-ati". Nah, pada waktu itu lah berarti ia sedang belajar sesuatu, belajar untuk hati-hati.
Saya rasa akan ada banyak sekali contoh jika kita ingin menelaah satu persatu. Mungkin suatu hari orang yang dekat, yang kita cintai meninggalkan kita, dengan cara yang menyakitkan kita belajar, belajar kehilangan. Mungkin seseorang pada kali pertamanya mejadi pemandu acara harus keliru membuka acara dengan hamdalah dan menutupnya dengan basmalah. Saat itu ia pun harus belajar sesuatu dengan cara menyakitkan, sekaligus memalukan. Mungkin juga kita akan jatuh cinta pada seseorang, kemudian membagi kisah tersebut pada seorang teman yang kita anggap dekat, tapi kemudian pada akhirnya orang yang kita cintai itu justeru menikah dengan teman tempat kita berbagi, tempat kita bercerita. Saat itu pun sekali lagi kita harus belajar dengan cara yang menyakitkan.
Jika rasa sakit, hidup, dan proses belajar (mungkin juga beberapa hal lain) adalah variabel-variabel dan jika kenyataan-kenyataan di atas merupakan gejala-gejala yang menunjukkan hubungan antar variabel-variabel tersebut, maka semestinya dengan sedikit kemampuan matematika lanjut kita bisa merumuskan satu atau beberapa buah persamaan untuk menunjukkan hubungan antar variable-variable tersebut. Kemudian persamaan itu diajarkan di sekolah-sekolah agar kelak kita akan meyakini persamaan itu sebagaimana kita yakin E=mc2 atau yang lain.
Tak perlu kau katakan. Saya tahu ini terdengar konyol dan menggelikan. Tapi coba kita lihat manfaatnya, kita jadi lebih siap menghadapi rasa sakit itu, kita jadi lebih siap untuk belajar, meskipun proses itu wujud dalam bentuk dan cara yang menyakitkan. Tak lain karena saat itu kita sudah sangat-sangat berpengetahuan dan sadar, bahwa di suatu ketika yang menyakitkan dalam hidup kita sejatinya kita sedang diminta untuk belajar. Jadi kita tahu, jika kita hendak belajar sesuatu besiaplah menerima rasa sakit, atau dalam setiap rasa sakit sesungguhnya ada pelajaran berharga, atau dengan rasa sakitlah kita tumbuh dan tangguh, atau seperti yang dikatakan Arsyad dengan rasa sakit kita membentuk pribadi yg makin kuat membuat makin mengerti akan arti CINTA yg sesungguhnya,.
Yah,.. jika dibahas terlalu lama dan dalam permasalah ini akan nampak semakin ruwet. Seruwet permasalah PAIN dalam serial kartun Naruto yang juga membicarakan tentang rasa sakit (hehe... nyambung ga ya). Jadi ada baiknya saya sudahi saja tulisan yang sedikit ngelantur kemana-mana ini (kalau tidak mau dibilang ngawur). Kalau pun tulisan ini memang tidak begitu baik dan nanti ada yang memberi komentar demikian, pun kalau sampai ada yang terasa menyakitkan pada saat itu saya pun harus belajar, belajar menerima kritik.
salam



0 komentar:
Poskan Komentar